Pattimura, Pahlawan Maluku yang Tak Kenal Takut

 

“Beringin tua, akan tumbang dan digantikan beringin muda lain. Batu besar akan terguling diganti batu lainnya. Beta akan mati, tetapi nanti akan muncul Pattimura-Pattimura muda yang akan meneruskan beta punya perjuangan,” Kapitan Pattimura

Bumi Nusantara sejak jaman dahulu terkenal sebagai negeri yang memiliki kekayaan alam yang luar biasa.

 

Berabad lalu, bangsa luar mengenal Nusantara sebagai wilayah penghasil rempah-rempah berkualitas. Rempah-rempah ini hampir terdapat di seantero Nusantara.

Wilayah Nusantara bagian timur, tepatnya di Kepulauan Maluku, hasil rempah-rempah begitu melimpah. Hal ini menjadikan kawasan Maluku sebagai tujuan bangsa asing.

Tujuan awal bangsa Eropa ini adalah untuk berdagang. Kemudian hari berubah menjadi agresor dengan maksud  menguasai daerah-daerah penghasil rempah-rempah.

Rempah-rempah sendiri merupakan komoditi utama dalam pembuatan bumbu masakan, obat-obatan, dan pengawet makanan.

Masyarakat Maluku sangat menentang sikap agresor bangsa-bangsa luar ini, sehingga lahirlah beberapa pejuang hebat dalam sejarah perjuangan rakyat Maluku melawan kaum penjajah.

Kapitan Pattimura adalah salah satu putra Maluku yang namanya terpatri sebagai salah satu pejuang hebat dalam menentang aksi bangsa penjajah menguasai wilayah Nusantara.

Pattimura terlahir dengan nama Thomas Matulessy, merupakan anak dari Antoni Matulessy dan Fransina Tilahoi.

pattimura

 

Dia mewarisi darah bangsawan dari kakeknya yang merupakan raja Kerajaan Sahulau yang terletak di Seram Selatan, Maluku.

Jiwa patriotik Pattimura bergelora saat dia melihat dan merasakan penderitaan rakyat Maluku.

Pihak Belanda yang berhasil mengambil alih penguasaan atas Kepulauan Maluku dari pihak Inggris, menetapkan aturan-aturan yang merugikan rakyat Maluku.

Aturan memberatkan tersebut antara lain, monopoli perdagangan, kerja paksa dan pelayaran Hongi.

Belanda kembali berkuasa di Maluku pada tahun 1814, saat pihak Inggris menyerahkan kekuasaan atas Kepulauan Maluku melalui kesepakatan bernama ‘Traktat London’.

Kesepakatan  yang berlangsung pada tanggal 13 Agustus 1814 ini, isinya berupa penyerahan kembali wilayah Nusantara kepada pihak Belanda sebagai penguasa sebelumnya.

Saat masa pendudukan Inggris di Kepulauan Maluku yang berlangsung sejak tahun 1798, dia bergabung dalam dinas militer atau Korps Ambon hasil bentukan dari Kerajaan Inggris.

Selama berdinas di Korps Ambon, dia berhasil meraih pangkat sersan. Pendidikan militer ini semakin membentuk jiwa Thomas Matulessy menjadi seorang pejuang yang handal di kemudian hari.

Masa-masa peralihan kekuasaan dari Inggris ke Belanda akhirnya memaksa Pattimura berhenti dari dinas militer.

Penyebabnya, salah satu isi perjanjian dalam ‘Traktat London’ adalah membubarkan Korps Ambon, dan memberi pilihan untuk memilih bergabung bersama Belanda atau tidak.

Pattimura yang merasakan peralihan kekuasaan kepada Belanda hanya menimbulkan penderitaan bagi rakyat Maluku, memutuskan untuk berjuang melawan Belanda.

Darah pemimpin yang mengalir dalam sanubarinya membuat semangat juang Pattimura langsung mendapatkan dukungan dari para raja, tokoh-tokoh adat, serta segenap rakyat di wilayah Kepulauan Maluku.

Pattimura kemudian mendapat amanat sebagai pemimpin dan panglima perang serta mendapat gelar Kapitan pada tanggal 14 Mei 1817.

Pengalaman di bidang militer serta mempunyai sifat ksatria atau kabaresi menjadi alasannya.

Tanggal 16 Mei 1817 menjadi sejarah perjuangan Pattimura dan rakyat Maluku dalam merebut Benteng Duurstede di Pulau Saparua, Maluku. Benteng Duurstede sendiri adalah salah satu benteng terkuat di wilayah Kepulauan Maluku.

Pertempuran hebat dalam merebut Benteng Duustede berlangsung di laut dan di darat, dengan kemenangan pasukan dari Pattimura. Seluruh serdadu Belanda yang menjaga benteng berhasil dihancurkan.

Perjuangan melawan Belanda terus berlanjut di beberapa tempat antara lain, di Waisisil dan Hatawano, Ouw-Ullath, Hitu, dan Seram Selatan.

Pattimura saat itu, memiliki pembantu-pembantu militer yang hebat antara lain, Melchior Kesaulya, Anthoni Rebhok, Philip Latumahina, Ulupaha, Said Parintah, serta Christina Martha Tiahahu.

Kemenangan-kemenangan yang diraihnya berserta pasukannya dalam waktu yang singkat membuat Belanda geram. 

Belanda berusaha mengirimkan kekuatan terbaiknya untuk merebut wilayah-wilayah yang dikuasai oleh Pattimura, terutama untuk merebut kembali Benteng Duustede.

Seorang Komisaris Jenderal bernama Buykes berpangkat Laksamana dikirim Belanda untuk menghadapi Pattimura. Dengan persenjataan lengkap dan jumlah serdadu yang banyak, Belanda kembali menggempur.

Perang hebat kembali pecah, akan tetapi Belanda tetap kesulitan untuk mengalahkan Pattimura dan pasukannya.

Akhirnya strategi ‘devide et impera’ dijalankan oleh Belanda untuk mengalahkan pejuang-pejuang yang ada di Nusantara.

Politik memecah belah ini akhirnya sukses untuk melemahkan perjuangan rakyat Kepulauan Maluku.

Belanda berhasil mempengaruhi beberapa tokoh masyarakat untuk membocorkan informasi terkait kekuatan dan strategi pasukan Pattimura.

Pati Akoon dan Dominggus Thomas Tuwanakotta adalah beberapa tokoh yang terpengaruh oleh strategi Belanda dalam mematahkan kekuatan perjuangan rakyat Maluku.

Benteng Duustede dan beberapa wilayah yang sebelumnya dalam penguasaan pasukan Pattimura, jatuh kembali ke tangan bangsa Belanda.

Selain itu, penangkapan atas Pattimura juga karena bocornya informasi dari orang dalam.

Pattimura dan rekan-rekan seperjuangan tertangkap saat berada di sebuah rumah di Siri Sori, Maluku Tengah, pada tanggal 11 November 1817.

Dia kemudian diadili atas tuduhan melawan pemerintah Belanda, dengan ancaman hukuman gantung.

Belanda yang merasa Pattimura berserta rekan-rekannya merupakan orang-orang yang hebat, mencoba untuk membujuk Pattimura agar mau bergabung bersama pihak Belanda.

Namun semangat juang dalam menentang penjajahan membuat Pattimura menolak tawaran Belanda.

Dia bersama Anthony Reebook, Philip Latumahina, dan Said Parintah akhirnya mendapat hukuman mati.

Sebelum meninggal, kalimat heroik tanpa mengenal takut, sempat dilantangkan Pattimura.

“Beringin tua, akan tumbang dan digantikan beringin muda lain. Batu besar akan terguling diganti batu lainnya. Beta akan mati, tetapi nanti akan muncul Pattimura-Pattimura muda yang akan meneruskan beta punya perjuangan,” kata dia

Pada tanggal 16 Desember 1817, di depan Benteng Nieuw Victoria, Kota Ambon Maluku, nafas para pejuang hebat ini berakhir di tiang gantung.

Bangsa Indonesia akan selalu mengenang Thomas Matulessy sebagai salah satu anak bangsa yang berjuang dalam menentang segala bentuk aksi penjajahan di atas Bumi Pertiwi.

Namanya terabadikan sebagai nama universitas dan bandara yang ada di Ambon, Maluku, yaitu Universitas Pattimura dan Bandar Udara Pattimura.

Selain itu, namanya tersemat sebagai nama kapal yaitu KRI Kapitan Pattimura, dan nama serta gambar wajahnya dalam bentuk uang kertas pecahan seribu.

Berdasar Keppres No.087/TK/1973, tanggal 6 November 1973 Thomas Matulessy atau Pattimura mendapat anugerah gelar Pahlawan Nasional Indonesia.

Biodata Kapitan Pattimura :

Lahir : 

Pulau Saparua Maluku, 8 Juni 1783

Wafat :

Ambon Maluku, 16 Desember 1817 (usia 34 tahun)

Penghargaan : 

Pahlawan Nasional Indonesia

sumber newsantara.id

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments